kisah cinta pertama dari saya. yang absurd, banget. kalau bingung, silahkan kasih pertanyaan? kalau jelek, silahkan dicela. enjoy!
Milikmu, Seutuhnya
oleh Wisnu Aryo Setio
Kamu tak akan pernah mencintaiku seperti aku mencintaimu. Tak akan mungkin. Tak akan bisa terjadi. Bagiku kau lebih dari hidup, tapi bagimu aku mati. Aku milikmu, seutuhnya. Tapi kamu tak akan pernah bisa jadi milikku.
Aku berusaha mengingat kenangan pertamaku bersamamu. Saat itu aku senang, akhirnya ada juga tangan kekar yang memegangku, tanpa harus memakai sarung tangan. Tangan itu milikmu. Aku suka melihat sidik-sidik jarimu tercetak di sekujur badanku yang putih dan ramping ini. Di masa itu kamu telah membawa aku menuju kehidupan. Tapi mungkin kamu juga yang nantinya akan membunuhku, perlahan-lahan.
Kamu tak pernah ragu saat menjadikan aku sahabat setiamu. Atau mungkin lebih dari itu. Hal yang paling kau cintai di muka bumi. Tapi itu dulu! Saat-saat aku masih begitu cantik dan pintar. Saat-saat aku masih begitu diimpikan dan layak untuk dibanggakan. Semua teman kantormu pasti bosan mendengar ceritamu tentangku. Dan di tempatku, aku hanya bisa tersenyum. Tersenyum tanpa wujud yang bisa kamu lihat apalagi kamu rasakan.
Saat-saat itu aku selalu berada bersamamu, sepanjang waktuku. Menemanimu tegang menunggu waktu rapat, atau sekedar melihatmu berkeringat di pusat kebugaran yang selalu kau kunjungi. Aku membangunkanmu dari tidur, melihatmu acak-acakan. Tapi kamu selalu tampan. Apakah aku, yang pertama kau sentuh di pagi harimu, pernah sekalipun kau anggap cantik?
Aku merindukan baju-baju yang engkau berikan, dengan bermacam warna dan bentuk yang tak pernah luput engkau ganti. Tapi kini? Semuanya sudah teronggok begitu saja di lemarimu yang berdebu. Aku saja sudah tak pernah kamu pedulikan, apalagi baju-bajuku?
Dan hal yang paling aku rindukan dari kamu yang dulu adalah kemampuanmu mengajariku, perlahan membuat aku menjadi lebih pintar setiap harinya. Jika pada awalnya kemampuan hitunganku hanya terbatas di angka-angka sederhana, berkatmu dan ketabahanmu menanganiku, aku bisa menghitung Sin Cos Tan dengan begitu mudahnya. Aku juga kini sudah bisa melantunkanmu lagu-lagu yang kau suka ketika kau tidak rasakan bahagia. Aku ikhlas, melakukannya semua untukmu. Aku rela. Demi kamu serta kebahagiaanmu.
Aku rindu kamu yang dulu. Tapi aku tahu kamu tak akan pernah merindukan aku. Bahkan didalam mimpiku.