“Semogalah, Masa Depan Lebih Cerah… Dam di dam di dam dam dam dam…”
Setiap kali saya menyalakan televisi dan menyimak satu persatu pariwara di setiap acara, saya pasti menemukan iklan ini. Cut Mini, sebagai Bu Muslimah, bernyanyi dan berdendang riang dengan logat Melayu. Merayakan sebuah kelegaan hati karena ada “Sekolah Gratis di sana-sini!”
Di akhir pariwara, muncul seorang bapak-bapak gagah yang berkata lantang “SEKOLAH? HARUS BISA!”
Hati kecil saya sebagian bahagia, tapi sebagian menjerit dan menghina dengan sinis. Harus bisa? Saya tahu, anggaran pendidikan kita SANGAT besar. Tapi apakah anggaran saja cukup untuk membuat kita bisa? Apakah semua bisa menjadi “bisa!” hanya gara-gara uang? Apakah gratis saja cukup?
Sudahlah, tidak ada gunanya mempertanyakan apalagi mempermasalahkan. Tidak ada masalah, dan tidak ada yang salah. Bapak-bapak botak “Harus Bisa” di televisi itu tidak salah. Bapak satu lagi yang hobi me”Lanjutkan!” juga tidak salah.
Mungkin satu-satunya yang salah adalah kebenaran itu sendiri.
Di zaman seperti ini, batasan salah dan benar yang kita pegang sepertinya sudah mulai berubah arah. Bahkan sesekali hanya ada sehelai benang tipis tak tampak yang membedakan keduanya. Hal ini juga saya temui dalam sistem pendidikan kita sekarang. Saya sudah bosan membahas soal benar vs. salah lagi. Saya tidak ingin mempertanyakan adil atau tidak adilnya sistem sekarang, seperti Ujian Nasional itu. Saya muak membahas antara jujur melawan kecurangan.
Yang saya butuhkan hanyalah harapan.
Harapan untuk dapat pergi ke sekolah, mendapat nilai yang sempurna tanpa berbuat licik dan semena-mena. Harapan untuk menjadi pintar yang sesungguhnya. Harapan untuk dapat menjadi manusia yang lebih baik lagi. Harapan untuk dapat menjadi seorang hamba yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.
Tuhan memiliki banyak rahasia, dan sepertinya Ia juga memiliki malaikat dimana-mana.
Salah satunya, adalah seorang guru yang menjadi pahlawan pendidikan bagi saya, saat ini.
Beliau adalah Ibu Tati Solihati.

Loading…

OUT OF TOPIC #1
Adakah sejarawan unggul yang bisa menjelaskan kepada saya, siapakah yang menentukan konsep waktu? Atau jangan-jangan sebenarnya hal ini sudah saya ketahui tapi saya lupakan begitu saja? Siapakah yang dengan semena-mena menentukan satu detik adalah sekian, datu menit adalah sekian, dan seterusnya? Lalu mana awalnya? Lalu kapan ujungnya?
Sudahlah. Topik tadi terlalu berat, kapasitas otak saya yang sudah setengah trance ini tidak mampu untuk berandai-andai sampai sejauh itu.
Saat ini, hampir semua manusia modern yang saya kenal di kota besar sungguh menjadi tidak sabaran soal waktu. Semua orang dikejar waktu. Bahkan saya yakin, deadline bagi sebagian orang yang bekerja akan jauh lebih menakutkan dibandingkan dedemit jenis apapun. Saya yakin.
Satu invisible-countdown-clock yang pasti dihadapi semua manusia adalah jelas, kematian. Mungkin selain itu, masing-masing manusia punya countdown dengan versi yang berbeda-beda. Kapan Ujian Nasional? Kapan Sidang Skripsi? Kapan Kerja? Kapan Kawin? Kapan Punya Anak? Kapan Punya Rumah? Kapan-kapan, kita berjumpa lagi.
Saya sendiri (ada yang masih ingat? lirik-lirik postingan sebelumnya dong!) masih terus menerus dikejar waktu. Terus menerus dihantui countdown menuju ujian nasional di mana-mana. Di tembok bimbingan belajar, di papan tulis kelas, sampai di profile facebook. Rasanya setiap detik menjadi begitu sia-sia jika kita lewatkan tanpa belajar. Tanpa rumus. Tanpa angka. Padahal siapa yang tahu, mungkin detik-detik yang saya pergunakan untuk belajar itu yang sia-sia. Sementara detik yang saya habiskan untuk melamun, justru malah mendadak melahirkan sebuah jalan cerita novel yang brilian? Mungkin.
Jadi kesimpulannya, saya sudah belajar satu hal. Waktu adalah uang. Waktu adalah emas. Waktu adalah… Segalanya! Eh, itu tiga ya?
—
Oke, pernah nonton film Click? (nyambung ya?)
Kalau bertanya sinopsis, imdb.com saja. Saya hanya ingin membahas sedikit ceritanya. Si tokoh yang bosan dengan kehidupan sehari-hari, akhirnya menemukan kebahagiaan ketika dia bisa fast-forward waktu. Saya juga ingin sekali memiliki kelebihan ini! Lewat saja bagian Ujian Nasional, langsung masuk SMA. Tapi coba lihat apa yang terjadi pada Adam Sandler di akhir film!
Dia…